• Sat. Mar 6th, 2021

Cerita Malin Kundang – Dongeng Legenda Sumatera Barat

cerita-malin-kundang-dongeng-legenda-sumatera-barat

Cerita Malin Kundang – Dongeng Legenda Sumatera Barat – Cerita Malin Kundang singkat adalah ringkasan dari cerita rakyat Malin Kundang yang pernah kita posting di blog ini sebelumnya. Kami yakin sebagian pengunjung sudah pernah mendengar dongeng rakyat ini. Bagi yang belum pernah mendengar, baca cerita ini sampai selesai dan temukan pesan didalamnya.

Cerita Malin Kundang – Dongeng Legenda Sumatera Barat

cerita-malin-kundang-dongeng-legenda-sumatera-barat

Cerita Malin Kundang Singkat (Indonesia)

parsoniidrs.com – Di sebuah desa, hiduplah seorang perempuan miskin. Ia hidup bersama dengan anak tunggalnya, namanya Malin Kundang. Sehari-hari perempuan itu bekerja sebagai nelayan. Namun, penghasilannya tak mampu memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari agar hidup mereka selamanya berkekurangan.

Saat Malin Kundang merasa dewasa, ia mengambil keputusan untuk pergi ke kota. Ia inginkan mengadu nasibnya di sana.

“Barangkali bersama dengan pergi ke kota, aku mampu merubah nasib kita, Ibu,” ucap Malin Kundang.

Dengan berat hati, ibunya pun mengizinkan. Kini, ibunya lagi menjadi perempuan tua yang kesepian. Setelah kepergian Malin, ibunya selamanya membayangkan keadaan anaknya itu. Ia menjadi sakit-sakitan, pas Malin tak pernah mengirim kabar untuknya.

Bagi anda yang suka bermain game online silahkan kunjungi link berikut : Game Slot

Hingga sebagian tahun kemudian, Malin berhasil merubah nasib. Ia sudah menjadi saudagar yang kaya raya. Malin miliki banyal kapal. Hidup Malin tak lagi susah. Malin juga menikahi seorang perempuan bangsawan yang terlampau cantik.

Suatu hari, Malin inginkan melihat keadaan desanya. Sudah lama sekali ia tak pulang. Malin pergi bersama dengan istri dan banyak pekerjanya. Ia juga membawa banyak uang untuk dibagi-bagikan kepada para penduduk.

Sampailah Malin di desanya. Dengan sombong ia membagikan uang kepada penduduk. Penduduk di desanya terlampau senang. Di pada mereka tersedia yang mengenali Malin, yaitu tetangganya sendiri. Orang itu pun segera pergi ke rumah Malin, hendak mengimbuhkan kabar gembira selanjutnya kepada ibu Malin.

“Ibu, apakah kau sudah tahu, anakmu Malin saat ini sudah menjadi orang kaya.” seru tetangga itu.

“Dari mana kau sadar itu? Selama ini aku tak pernah mendapat kabar darinya,” ucap ibu Malin, terkejut.

“Sekarang pergilah ke dermaga. Anakmu Malin tersedia di sana. Dia keluar terlampau tampan, dan istrinya juga terlampau rupawan,” ucap tetangganya.

Ibu Malin tak percaya. Matanya berkaca-kaca. Sungguh, ia terlampau merindukan anaknya sepanjang sebagian tahun ini. Maka ia pun segera berlari menuju dermaga. Benar saja, di sana keluar Malin bersama dengan istrinya yang terlampau rupawan.

“Malin, kau pulang, Nak,” seru ibunya.

Malin mengenali ibunya. Namun, ia malu mengakui orangtua yang berpakaian terlampau lusuh itu. Bagaimana ia akan menyebutkan kepada istrinya tentang seluruh ini?

“Kau bilang ibumu sudah meninggal. Apa benar orangtua ini adalah ibumu?” tanya istri Malin, bingung.

“Dia bukan ibuku, dia pengemis yang mengaku-ngaku sebagai ibuku.” seru Malin.

Sungguh sakit hati Ibunya mendengar perkataan Malin. Ibunya selanjutnya mengutuk Malin.

“Hatimu sungguh sekeras batu, Malin. Maka, kau aku kutuk menjadi batu. Kau anak yang durhaka.” ucap ibunya.

Malin ketakutan. Ia memohon ampun kepada ibunya. Namun, ibunya sudah terlampau sakit hati. Seketika hujan turun terlampau lebat, dan petir menyambar. Saat itu pula Malin berubah menjadi batu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *