• Mon. Jan 25th, 2021

Cerita Rakyat Joko Kendil – Dongeng Jawa Tengah

cerita-rakyat-joko-kendil-dongeng-jawa-tengah

Cerita Rakyat Joko Kendil – Dongeng Jawa Tengah -Pada zaman dahulu kala, di suatu desa terpencil di Jawa Tengah tersedia seorang janda miskin. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bentuknya menyerupai periuk untuk menanak nasi. Di Jawa Tengah, periuk untuk menanak nasi itu disebut kendil. Karena anak laki-laki itu menyerupai kendil maka Ia dikenal bersama dengan nama Joko Kendil.

Cerita Rakyat Joko Kendil – Dongeng Jawa Tengah

cerita-rakyat-joko-kendil-dongeng-jawa-tengah

parsoniidrs.com – Meskipun anaknya seperti kendil, namun sang ibu tidak jadi malu maupun menyesali, apalagi sebaliknya Ia sangat menyayanginya bersama dengan tulus.

Ketika tetap kecil, Joko Kendil seperti anak-anak seusianya. judibolalive99 Ia sangat jenaka sehingga disenangi teman-temannya. Pada suatu hari tersedia pesta perkawinan di dekat desanya. Diam-diam Joko Kendil menyelinap ke dapur.

“Aduh, tersedia kendil bagus sekali. Lebih baik untuk area kue dan buah-buahan,” kata seorang ibu sambil memasukkan beraneka macam kue dan buah ke didalam kendil itu. Ia tidak tahu bahwa kendil itu sebenarnya adalah manusia. Setelah terisi penuh, Joko Kendil perlahan-lahan menggelinding keluar.

“Kendil ajaib! Kendil ajaib! Teriak orang-orang yang melihat kejadian itu. Mereka berebutan punyai kendil ajaib itu. Joko Kendil pun semakin cepat menggelinding pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, Joko Kendil Iangsung menemui ibunya. “Dari mana kau mendapat kue dan buah-buahan sebanyak ini?” tanya ibunya penuh keheranan. Joko Kendil bersama dengan jujur menceritakan apa yang dialaminya. Semuanya itu bukan hasil curian melainkan perlindungan ibu-ibu di dapur suatu pesta perkawinan. Menurut mereka kendil yang indah itu Iebih tepat untuk menyimpan kue dan buah-buahan daripada digunakan untuk menanak nasi.

Tahun demi tahun Joko Kendil jadi tambah usia dan semakin dewasa. Namun tubuhnya tidak berubah, senantiasa seperti kendil. Pada suatu hari Joko Kendil mengemukakan keinginannya untuk langsung menikah. Tentu saja ibunya bingung, siapa yang berkenan menikah bersama dengan anaknya yang berupa kendil. Ibunya semakin bingung lagi disaat Joko Kendil perlihatkan cuma berkenan menikah bersama dengan puteri raja.

“Apa keinginanmu tidak keliru, anakku? Engkau anak orang miskin, bentuk tubuhmu seperti kendil. Mana bisa saja puteri raja berkenan menikah denganmu?”

kata ibunya. Tapi Joko Kendil senantiasa mendesak untuk langsung melamarkan puteri raja untuknya. Akhirnya terhadap hari yang ditentukan Joko Kendil dan ibunya menghadap raja.

Sang raja mempunyai tiga orang puteri yang cantik jelita. Ibu Joko Kendil dengah hati-hati mengemukakan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk melamar tidak benar seorang puteri raja. Sang raja sangat terperanjat namun bersama dengan bijaksana Ia menanyakan jawabannya kepada ketiga puterinya itu.

“Puteriku, Dewi Kantil, Dewi Mawar, dan Dewi Melati, adakah di pada kalian yang bersedia menerima lamaran Joko Kendil?”

“Ayahanda, saya tidak berkenan menikah bersama dengan anak desa yang miskin itu,” jawab Dewi Kantil ketus.

“Saya pun tidak berkenan menikah bersama dengan makhluk aneh itu. Saya cuma berkenan menikah bersama dengan putera mahkota yang tampan dan kaya raya,” jawab Dewi Mawar bersama dengan nada sombong. Sang raja pun mengalihkan pandangannya kepada Dewi Melati.

“Ayahanda, mohon restui saya. Lamarannya saya menerima bersama dengan sepenuh hati,” jawab Dewi Melati.

Mendengar jawaban Dewi Melati mengagetkan itu, sang raja pun sejenak. Ia tidak tahu apa yang mendorong Dewi Melati bersedia jadi istri Joko Kendil. Namun sebagai raja yang bijaksana Ia mesti menepati janjinya.
“Aku merestuimu, anakku,” kata raja. Keputusan Dewi Melati ini Iangsung disampaikan kepada ibu Joko Kendil. Akhirnya perkawinan Dewi Melati dan Joko Kendil pun dilangsungkan bersama dengan meriah.

Mendengar jawaban Dewi Melati yang mengagetkan itu, sang raja pun tertegun sejenak. Ia tidak tahu apa yang mendorong Dewi Melati bersedia jadi istri Joko Kendil. Namun sebagai raja yang bijaksana Ia mesti menepatijanjinya.

“Aku merestuimu, anakku,” kata raja. Keputusan Dewi Melati ini langsung disampaikan kepada ibu Joko Kendil. Akhirnya perkawinan Dewi Melati dan Joko Kendil pun dilangsungkan bersama dengan meriah.

Joko Kendil pun formal jadi suami Dewi Melati dan mereka hidup berbahagia. Namun kebahagiaannya senantiasa terganggu bersama dengan ejekan dan cemoohan ke-2 kakaknya.

“Lihat, suami Dewi Melati jalannya menggelinding seperti bola,” kata Dewi Kantil yang sengaja berkata bersama dengan keras sehingga terdengar oleh adiknya.

“Wajahnya jelek, tubuhnya aneh, Iebih tepat untuk area membuang sampah saja,” sambung Dewi Mawar. Semua ejekan itu di terima bersama dengan tabah dan penuh kesabaran oleh Dewi Melati.

Pada suatu hari, raja mengadakan perlombaan ketangkasan dan keterampilan pakai senjata sambil berkuda. Seluruh keluarga kerajaan melihat lomba itu. Akan namun Joko Kendil tidak keluar di arena perlombaan karena sakit. Dewi Melati pun duduk sendirian.

“Hore! Hore!” teriak para penonton membahana saat melihat para panglima dan pangeran berasal dari beraneka negeri perlihatkan keahliannya.

Di tengah-tengah kemeriahan lomba ketangkasan, tiba-tiba penonton terpesona melihat kedatangan seorang ksatria tampan dan gagah perkasa yang sedang memasuki arena. Ia mengenakan baju kerajaan yang gemerlapan dan naik kuda tunggangan yang gagah perkasa pula. Dewi Kantil dan Dewi Mawar Iangsung terpesona hatinya dan berusaha menarik perhatian pangeran itu. Mata mereka melirik Dewi Melati yang duduk termangu sendirian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *