• Sat. Mar 6th, 2021

Cerita Rakyat Timun Mas dari Jawa Tengah

cerita-rakyat-timun-mas-dari-jawa-tengah

Cerita Rakyat Timun Mas dari Jawa Tengah – Mbok Sarni tinggal sebatang kara di hutan yang sepi. Ia amat mendambakan Kedatangan seorang anak. Tiap hari ia tiada henti senantiasa berdoa, “Tuhan, karuniai seorang anak padaku. Sesungguhnya hidupku amat sepi. Jika engkau mengaruniai aku seorang anak tentu saja aku bakal makin lama bersyukur dan taat kepadamu.”

Cerita Rakyat Timun Mas dari Jawa Tengah

cerita-rakyat-timun-mas-dari-jawa-tengah

parsoniidrs.com – Suatu hari, raksasa yang kebetulan lewat mendengar doa Mbok Sarni. Dengan suaranya yang menggelegar, raksasa itu bertanya, “Hei wanita tua! Apakah kau serius mendambakan seorang anak?”

Mbok Sarni terkejut. Dengan gemetar, ia menjawab, “Benar sekali. Aku mendambakan seorang anak yang bisa menemaniku. Namun sepertinya hal itu tak mungkin, usiaku sudah tua, dan suamiku sudah meninggal.”

“Ha… ha… ha… aku bisa mengabulkan keinginanmu dengan mudah, namun pasti ada syaratnya. Apakah kau bersedia?” tanga si raksasa.

“Baiklah, aku bersedia,” sahut Mbok Sarni menjawab walaupun hatinya was-was menyaksikan sosok raksasa yang besar dan seram.

“Peliharalah anak yang kuberikan padamu nanti. Beri ia makan yang bangak supaya gemuk. Aku bakal menjemputnya sementara ia berusia 6 tahun.” Ucap si Raksasa menggelegar.

Menjemputnya? Untuk apa?” bertanya Mbok Sarni heran.

“Tentu saja untuk kumakan. Anak yang gemuk adalah hidangan yang paling aku sukai. Ha… ha… ha…”, raksasa tergelak. Suaranya menggelegar menggetarkan hutan yang tadinya sepi.

Tidak ada pilihan lain, Mbok Sarni menerima syarat tersebut. Raksasa itu memberinya segenggam biji mentimun untuk ditanam.

Mbok sarni pun ikuti saran si Raksasa untuk menanam biji mentimun yang didapatkanya. Biji itu tumbuh dan berbuah dalam sementara singkat, dalam beberapa hari saja pohon mentium tumbuh dengan buahnya yang amat besar siap untuk dipanen. Betapa terkejutnya Mbok Sarni dikala tengah memetik keliru satu mentimun, di hadapannya terdapat bayi perempuan yang cantik. Bayi itu dinamai Timun Mas, karena ia lahir berasal dari mentimun yang berwarna keemasan.

Hari ini Timun Mas genap berusia 6 tahun. Mbok Sarni mendambakan memasak nasi kuning sebagai ucapan syukur. Ketika ia tengah repot di dapur, Bumi bergetar. Buumm… bumm… buumm… seperti cara kaki raksasa. “Gawat, raksasa itu sudah datang. Untung Timun Mas tengah pergi. Aku mesti mencari akal untuk mengusir raksasa itu,” kata Mbok Sarni dalam hati

“Hai, Ibu Tua… keluarlah! Mana anakmu?” teriak raksasa itu.

Mbok Sarni cepat muncul menghampiri si Raksasa, “Sabar, aku bakal menyerahkannya padamu, tapi

apakah kau mau? Tubuhnya masih kecil dan kurus, aku rasa ia belum memadai lezat untuk kau makan,”

“Hah? Berarti kau tidak menjaganya dengan balk! Mana anak itu?” teriak raksasa lagi.

“Ia tengah pergi. Percayalah padaku, kembalilah dua tahun lagi, aku jamin ia sudah gemuk,” jawab Mbok Sarni. Raksasa itu percaya pada perkataan Mbok Sarni. “Dua tahun bukanlah sementara yang lama,” pikirnya.

Sepeninggal raksasa, Mbok Sarni mencari akal untuk menyelamatkan Timun Mas. Ia terhitung berdoa supaya Tuhan memberinya jalur keluar. Suatu malam, Tuhan menjawab doanya. Mbok Sarni bermimpi bersua dengan seorang pertapa di gunung. Pertapa itu menguruh Timun Mas untuk menemuinya. Ia bakal menopang Timun Mas. Saat Mbok Sarni terbangun, ia mulai tak ada salahnya untuk mencari pertapa itu. Ia lalu menceritakan seutuhnya pada Timun Mas, terhitung perjanjiannya dengan raksasa. Timun Mas memang anak pemberani, ia tak was-was dikala memahami bahwa raksasa bakal menyantapnya. Timun Mas bertekad untuk

Setelah berhari-hari mendaki, Timun Mas akhirnya capai puncak gunung. Ia menyaksikan seorang Laki-laki tua berambut putih dan berjubah putih. “Permisi, Kek. Namaku Timun Mas. Ibuku bilang, Kakek bakal membantuku melawan raksasa jahat yang hendak menyantapku,” sapa Timun Mas.

Cerita Rakyat Timun Mas dari Jawa Tengah

“Oh, kau yang bernama Timun Mas? Ya, aku memang mendatangi ibumu lewat mimpi. Cucuku, jika raksasa itu kembali, berlarilah dengan kencang,” pesan si pertapa itu.

“Langkah kakinya lebar, aku pasti mudah tertangkap,” kata Timun Mas heran.

Ambillah empat buah bungkusan kecil ini. Lemparkan satu persatu dikala kau melarikan diri,” jawab pertapa itu dengan tegas.

Timun Mas paham. Ia lalu pamit pulang.

Dua tahun berlalu. Saatnya raksasa ulang untuk mengambil Timun Mas. Benar saja, tiba-tiba terdengar cara kaki dan teriakan menggelegar, “Mbok Sarni! Mana anakmu? Aku sudah lapar!” teriaknya.

“Kumohon, jangan makan dia,” pinta Mbok

“Enak saja. Kau sudah berjanji, kau tak boleh mengingkarinya!” jawab raksasa. Dengan terpaksa, Mbok Sarni membawa Timun Mas menemui raksasa itu.

Baca Juga : Cerita Anak Dongeng Persahabatan : Pasir Dan Batu

Timun Mas berbisik padanya, “Jangan khawatir, Bu.”

“Hahaha… wah… ibumu amat merawatmu dengan baik. Badanmu memadai berisi, pasti dagingmu nikmat sekali.”

Timun Mas menjawab, “Dasar raksasa rakus, makanlah aku jika bisa!”

Setelah bicara demikian, Timun Mas lari sekencang-kencangnga. Dengan marah, raksasa itu segera mengejarnya. Timun Mas tetap berlari dan berlari. Namun, ia mendengar Iangkah kaki raksasa itu makin lama mendekat.

Timun Mas segera mengakses bungkusan pemberian kakek pertapa itu. Bungkusan pertama, ternyata memuat biji mentimun. Ia melemparkannya ke arah raksasa. Keajaiban pun terjadi. Biji mentimun itu beralih menjadi ladang timun yang buahnya amat banyak. Langkah raksasa tertahan oleh ladang timun itu. Dengan kesusahan payah ia mesti melalui kendala dan batang-batang pohon yang meliliti tubuhnya. Namun, ia berhasil meloloskan diri. Ia makin tambah marah.

Timun Mas menoleh ke belakang, “Gawat, ia berhasil lolos. Aku mesti segera mengakses bungkusan kedua,” pikirnya. Bungkusan ke dua itu memuat jarum. Timun Mas melemparkan jarum- jarum itu. Apa yang terjadi? Jarum-jarum itu beralih menjadi pohon-pohon bambu yang tinggi dan berdaun lebat. Raksasa mesti bekerja keras menerobos pohon-pohon bambu itu. Badannya terluka karena tergores batang-batang bambu. Meskipun tubuhnya berdarah, ia pantang menyerah. Justru larinya makin lama kencang setelah berhasil melalui hutan bambu yang dibikin Timun Mas. Ia kesal karena dipermainkan oleh Timun Mas.

Timun Mas mengakses bungkusan ketiga. Sambil tetap berlari, ia me lemparkan mengisi bungkusan itu, yaitu garam. Lagi-lagi keajaiban terjadi. Ga ram itu beralih menjadi lautan yang luas. Namun, lautan itu tak menjadi penghalang bagi raksasa. Ia berenang melintasi lautan itu, dan berhasil capai tepi. Raksasa mulai kelelahan, namun mengingat lezatnya daging Timun Mas, ia ulang bersemangat berlari.

Timun Mas kekhawatiran menyaksikan kekuatan raksasa itu. Bungkusan ter akhir adalah harapan satu-satunya. Sambil berdoa, Timun Mas mengakses bungkusan keempat. Isinya terasi. Sekuat tenaga, Timun Mas melemparkan terasi itu ke arah raksasa. Apa yang terjadi? Terasi itu beralih menjadi lautan lumpur yang panas mendidih. Raksasa yang berlari kencang tak bisa menghentikan langkahnya. Ia pun terperosok ke dalam lumpur. Ia berteriak dan meronta. Namun makin lama ia meronta, makin lama dalam lumpur itu mengisap tubuhnya. Ia akhirnya tenggelam ke dalam lumpur panas.

Timun Mas menghentikan langkahnya. Ia lega karena berhasil menyelamatkan diri. Dengan kelelahan ia berjalan pulang ke rumahnya.

Mbok Sarni, yang tetap menangis sepeninggal Timun Mas, amat puas menyaksikan kepulangan putrinya. Mereka berpelukan dan mengucap syukur pada Tuhan atas pertolonganNya. Sejak sementara itu, Mbok Sarni hidup puas dengan Timun Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *